Rabu, 08 Februari 2017

Kisah Mengharukan Edi Menikahi Jenazah Herni, Kekasihnya Yang Mati Bunuh Diri

Keputusan Herni (bukan Erni seperti yang diberitakan sebelumnya) mengambil jalan pintas mengakhiri hidupnya yang tragis masih misteri. Semuanya menyayangkan, terlebih sang pacar, Ahmad Haidir.

Kisah Mengharukan Edi Menikahi Jenazah Herni, Kekasihnya Yang Mati Bunuh Diri


Ibu Herni, Wati juga tak mengetahui penyebabnya. Yang pastinya, korban meminum racun rumput sebelum mengembuskan napas terakhir.
“Saat dibawa ke Puskesmas dia hanya mengucap maaf telah berbuat hilaf. Setelah itu dia tak pernah lagi sadarkan diri hingga meninggal,” kisah sang ibu, Wati kepada FAJAR (Jawa Pos Group), Minggu (5/2).

Wati mengaku tak habis pikir mengapa putri keduanya itu memutuskan memilih cara tersebut untuk mengakhiri hidupnya. Padahal, sehari-sehari wanita yang baru saja menamatkan pendidikan di STIKES Baramuli ini dikenal periang. Setahu orang terdekatnya, dia tak ada masalah dengan siapapun.

Herni yang alumnus sekolah kesehatan itu, justru sering memperingatkan keluarganya agar tidak sembarangan menyimpang benda-benda beracun. Maklum, orang tuanya seorang petani, kerap menggunakan pestisida.

“Jangankan racun. Saat kami akan meminum obat, dia selalu berpesan agar mengikuti petunjuk dokter. Makanya kami heran mengapa terjadi seperti ini,” tutur Wati.
Keluarga korban juga sempat meminta penjelasan kepada Edi, sapaan Ahmad Haidir, terkait hubungan mereka selama ini. Menurut pengakuan sang kekasih, seperti ditirukan ibu korban, sejak mereka berkenalan hingga pacaran, tak pernah ada pertengkaran.
“Berjalan biasa saja, tak ada yang ditutup-tutupi,” aku Edi pada Wati.

Baik Wati maupun suaminya, La Juma, serta keluarga besar mereka, mengaku tak pernah menghalangi niat keduanya untuk menikah. Sejak Herni memperkenalkan Edi, tak pernah ada kata penolakan telontar. “Asalkan mereka bahagia, kami setuju-setuju saja,” tutur Wati.
Demikian pula dari pihak keluarga Edi di Nias, Sumatera Utara. Lewat telepon, dia mampu meyakinkan orang tuanya untuk memberikan restu. Termasuk merelakan sang putra menjadi mualaf jelang pertunangan. Kedua belah pihak sudah sepakat pernikahan akan dilangsungkan pada Oktober mendatang dengan mahar Rp 40 juta.

Menurut Husban, kakek korban, sudah beberapa kali Edi datang menemui mereka. Menyatakan keseriusan dan keinginan menjadikan Herni sebagai istri.
“Asalkan saling suka kami pun memberi restu,” akunya.

Cinta Edi pada Herni memang begitu dalam. “Dia istri saya dan akan selamanya menjadi istri saya,” ujar Edi, Minggu, 5 Februari. Edi atau Ahmad Haidir membuktikan janjinya menikahi Erni, meski tak bernyawa lagi.

Kisah cinta yang berakhir tragis antara Ahmad Haidir dengan Erni direspons banyak pihak. Di media sosial, tak sedikit yang mengagumi kesetiaan Edi. Namun, sejumlah pihak juga menyayangkan digelarnya pernikahan dengan mayat yang dianggap tak lazim.
Dalam Islam, tak bisa dianggap sah jika salah satu rukun nikah tak terpenuhi. Menanggapi hal ini, pihak keluarga yang diwakili oleh Syamsuddin, paman korban, mencoba menjelaskan apa yang terjadi pada Jumat, 3 Februari sebelum pemakaman Herni.

“Saya ada di tempat waktu itu. Kami mengundang imam kampung untuk mengurus jenazah, bukan untuk menikahkan,” kata Syamsuddin seperti yang dilansir Fajar (Jawa Pos Group).
Kepala KUA Kecamatan Balusu, Kabupaten Barru, Firman, mengaku tidak tahu persis masalah itu. Yang jelas, tidak ada berkas administrasi yang mereka terima. Hanya saja kata dia, Edi memang pernah datang ke KUA. Dia minta dituntun mengucapkan dua kalimat syahadat. “Dia bilang akan menikahi wanita muslim di wilayah kami. Hanya itu. Kalau administrasi nikahnya kami tidak terima,” jelasnya.
Menikahi Mayat, MUI: Tanda Kiamat Sudah Dekat!
Anggota Majelis Ulama Indonesia (MUI) bidang fatwa, Hj. Mursyidah mengimbau seluruh umat muslim untuk semakin membentengi diri dan keluarga dari segala kekufuran.
Sebab, saat ini tanda-tanda kecil kiamat sudah terlihat. "Sadar atau tidak, tanda-tanda kecil kiamat sudah datang. Ini dilihat dari tingkah laku manusia yang semakin aneh," kata Mursy‎idah, kepada JPNN, Selasa (7/2).

Dia mencontohkan, munculnya fenomena pernikahan manusia dengan mayat, boneka, dan hewan. Selain itu tanda kecil lainnya, ketika seorang anak kandung membunuh orang tuanya, menuntut dan memenjarakan orang tuanya, bahkan ada yang sampai berhubungan seks dengan ibu atau ayahnya.
Begitu juga perkataan orang jujur dianggap kebohongan, sedangkan ucapan pembohong dianggap kebenaran. "Ini tanda kecil dari kiamat yang tidak disadari dan dianggap lazim," ucapnya.
‎Dia menambahkan, meski kondisi sekarang makin tidak karuan, tapi selagi masih banyak orang saleh, murka Allah akan menjauh.

"Mari saling melindungi diri dan keluarga dari perbuatan terlarang. Perbanyak amal kebaikan. Beribadahlah sebanyak-banyaknya seolah-olah akan mati besok. Insya Allah negara akan terhindar dari bencana," pungkasnya.

Jika ulam menilai pernikahan dengan mayat tak bisa disahkan, hal senada diungkapkan oleh budayawan. Menurut Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin, Prof Nurhayati Rahman, istilah perkawinan dalam suku Bugis juga bisa disebut “Mabinne”.

Artinya menanam benih. Maksudnya menanam benih dalam rumah tangga.


“Tetapi dalam budaya Bugis menikah dengan mayat itu tidak ada. Bahkan dalam naskah I La Galigo tidak dijelaskan hal itu,” jelas Prof Nurhayati, Senin, 6 Februari.

Dalam naskah I La Galigo, Prof Nurhayati membeberkan, tertera ada pernikahan yang disebut dengan Botting Langi Pernikahan ini terjadi pada dunia atas atau dunia langit. “Budaya itu tetap berdasarkan logika dan pengalaman,” katanya.

Sumber: JPNN.com